STRATEGI MENGHADAPI BELT AND ROAD INITIATIVE CHINA (OPTIMALISASI REGULASI KERJA SAMA INDONESIA-CHINA)
August 14, 2022
Irmanjaya Thaher

Metrics

  • Eye Icon 0 views
  • Download Icon 0 downloads
Metrics Icon 0 views  //  0 downloads
Abstract

Cina merupakan negara yang pada saat ini menjadi kekuatan dunia yang mampu menantang hegemoni Amerika Serikat. Kemajuan yang dialami Cina dalam berbagai bidang, khususnya ekonomi menjadikan Cina sebagai salah satu kekuatan global. Cina berusaha untuk menunjukkan eksistensinya pada dunia yang tercermin dalam kebijakan luar negerinya. Salah satu kebijakan luar negeri Cina adalah One Belt One Road (OBOR) atau dikenal juga sebagai Belt and Road Initiative (BRI). Kebijakan Belt and Road Initiative (BRI) pertama kali diperkenalkan pada tahun 2013 oleh Presiden Cina yaitu Xi Jinping. Xi Jinping memiliki ambisi untuk menjadikan Cina sebagai aktor dominan dalam perdagangan di kancah internasional. Program BRI ini menargetkan kawasan Asia, Afrika, dan Eropa yang mencakup 71 Negara.

BRI bertujuan untuk membangun infrastruktur guna meningkatkan konektivitas di antara negara-negara BRI, meningkatkan arus perdagangan dan investasi, dan pinjaman dana. Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang dituju oleh kebijakan BRI ini. Asia Tenggara melalui ASEAN menjadi jalur yang diambil Cina untuk mengimplementasikan BRI. Keterbukaan perdagangan ASEAN-Cina sudah dimulai sejak perjanjian ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) pada tahun 2010. Adanya perjanjian ACFTA dan program BRI menjadikan investasi Cina terhadap Indonesia sebagai salah satu negara ASEAN meningkat tajam pada tahun 2013 hingga 2018 dengan rata-rata 98% pertahun BRI yang diperkuat dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) membuat saluran dana ke kawasan Asia menjadi lebih mudah.

Full text
Show more arrow
 
More from this repository
ETIKA PROFESI & ASPEK HUKUM BIDANG KESEHATAN
🧐  Browse all from this repository

Metrics

  • Eye Icon 0 views
  • Download Icon 0 downloads
Metrics Icon 0 views  //  0 downloads